
Tidak perlu sepatu
Manusia jelas tidak perlu sepatu untuk berlari. Bahkan, dalam
kompetisi kelas dunia pun sepatu tidak selalu berpengaruh terhadap
prestasi. Banyak atlet internasional seperti Zola Budd-Pieterse dari
Afrika Selatan dan Abebe Bikila dari Ethiopia yang berhasil menjadi
juara tanpa alas kaki. Bersepatu bahkan justru meningkatkan risiko
keseleo engkel kaki, baik oleh penurunan kesadaran posisi kaki atau
peningkatan torsi memutar pada engkel kaki saat tersandung. Insiden
keseleo lebih banyak di negara maju yang penduduknya selalu memakai
sepatu dibandingkan di negara berkembang di mana bertelanjang kaki atau
bersandal tipis lebih umum.
Dr Daniel Leiberman berpendapat bahwa masalahnya sebenarnya bukan
pada memakai sepatu atau tidak, tetapi pada bagaimana kita berjalan atau
berlari. Bertelanjang kaki mendorong pelari untuk meredam dampak
pendaratan dengan menyesuaikan gaya mendarat pada bagian bawah kaki.
Pelari tanpa alas kaki mendarat lebih banyak pada bagian tengah atau
depan telapak kaki, yang mengurangi guncangan transien saat kontak.
Guncangan pendaratan lalu disebarkan oleh sebagian besar otot-otot di
bagian belakang kaki. Akibatnya, berjalan tanpa alas kaki mengurangi
risiko cedera karena menghasilkan kekuatan benturan jauh lebih rendah.
Sebaliknya, pelari yang memakai sepatu lebih banyak mendarat pada tumit
dan bergantung pada desain sepatu untuk meredam kejutan dan
mengendalikan kaki saat berlari.
Penyesuaian bertahap
Namun, jangan buru-buru membuang sepatu lari Anda. Bagi Anda yang
baru mulai berlari tanpa alas kaki, regangan yang tidak biasa pada otot
dan tendon dapat menyebabkan cedera. Anda harus membiasakan untuk
mengubah cara berjalan terlebih dahulu. Arahkan tekanan lebih banyak
pada bagian tengah atau depan telapak kaki, bukan pada tumit. Kemudian,
biarkan struktur elastis dalam kaki melakukan tugasnya. Mulailah
perlahan-lahan pada permukaan yang aman (misalnya lapangan rumput atau
pasir) untuk menguatkan telapak kaki dan memungkinkan jaringan lunak
kaki dan pergelangan kaki untuk beradaptasi dengan strategi beban yang
baru. Berganti-ganti berjalan kaki tanpa sepatu di satu hari dan
bersepatu di hari berikutnya juga akan mengurangi risiko cedera.
Setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda untuk belajar dan
beradaptasi dengan keterampilan baru. Beberapa orang dengan cepat
menyesuaikan diri sebagai pelari tanpa alas kaki, yang lainnya perlu
perjuangan lebih banyak untuk melakukan perubahan, terutama jika mereka
memiliki masalah struktural ireversibel pada tendon dan otot, yang
disebabkan oleh puluhan tahun mengenakan sepatu.
Baik untuk anak dan remaja
Berjalan tanpa alas kaki sangat baik untuk perkembangan kaki yang
sehat pada anak-anak dan remaja. Telanjang kaki akan memperkuat dan
melatih otot-otot kaki yang terus-menerus beradaptasi dengan
ketidakrataan lantai. Atrofi (penyusutan) otot dan cacat seperti kaki
datar (flat foot) dapat dicegah. Otot-otot yang terlatih juga
membuat kaki kurang rentan terhadap rasa sakit. Bahkan pada orang
dewasa, berjalan tanpa alas kaki dapat mencegah deformitas kaki tertentu
– meskipun pada tingkat lebih rendah.
Perhatian khusus
Bagaimana pun, Anda perlu mewaspadai duri, logam, beling, dan benda
lain ketika berlari tanpa alas kaki. Benda-benda itu dapat dengan mudah
menjadi sumber bahaya bagi kaki Anda. Cedera tidak hanya menyakitkan
tetapi juga berisiko infeksi, termasuk tetanus yang mematikan. Anda
perlu memeriksa status imunisasi tetanus Anda sebelum pergi bertelanjang
kaki di alam bebas. Orang dewasa harus mendapatkan vaksinasi tetanus
setiap sepuluh tahun. Selain itu, bertelanjang kaki tidak disarankan
bagi Anda yang menderita diabetes. Penderita diabetes kronis seringkali
memiliki persepsi rasa sakit yang terganggu sehingga tidak segera
menyadari luka di kaki. Hal ini meningkatkan risiko infeksi dan
komplikasi.
Posting Komentar